Supriansa: Politik Itu Lentur, Tak Perlu Menjatuhkan untuk Naik

Uncategorized271 Dilihat

MAKASSAR, Wartasimpul.com — Ketua Harian DPD I Partai Golongan Karya (Golkar) Sulawesi Selatan, Dr. Supriansa, S.H., M.H., menyampaikan pesan reflektif tentang dinamika politik dan pentingnya menjaga etika dalam berkompetisi. Menurutnya, perjalanan politik tidak harus diwarnai upaya menjatuhkan orang lain demi meraih posisi atau kedudukan.

“Politik itu lentur, tak perlu menjatuhkan untuk naik. Karena semua ada waktunya,” demikian pesan yang disampaikan Supriansa, yang mengandung makna bahwa setiap orang memiliki kesempatan dan prosesnya masing-masing dalam perjalanan politik.

Dipercaya Memimpin Golkar Kota Makassar

Supriansa kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua DPD II Partai Golkar Kota Makassar. Penunjukan tersebut dilakukan oleh Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin, pada Jumat, 9 Oktober 2026, untuk mengisi kekosongan kepemimpinan hingga pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Makassar.

Penunjukan ini merupakan bagian dari proses penataan organisasi setelah sebelumnya Munafri Arifuddin mengundurkan diri dari Golkar dan beralih ke Partai Demokrat. Mandat tersebut bersifat sementara hingga Musda Golkar Makassar dilaksanakan untuk menentukan kepemimpinan definitif, sehingga kesinambungan organisasi dan konsolidasi internal dapat berjalan dengan baik.

Politik Bukan Sekadar Perebutan Posisi

Dalam perspektif etika politik, pesan Supriansa mengingatkan bahwa kompetisi dalam organisasi semestinya dijalankan dengan kedewasaan, penghormatan terhadap sesama, dan komitmen terhadap tujuan bersama. Pencapaian seseorang tidak harus dibangun melalui pelemahan pihak lain. Sebaliknya, rekam jejak, integritas, kerja nyata, serta kemampuan menjaga hubungan baik merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang kader politik.

Dinamika pergantian kepemimpinan juga tidak semestinya menjadi alasan untuk membangun permusuhan. Perbedaan pilihan dan kepentingan politik merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang perlu disikapi secara dewasa.

“Tak penting mengumbar semut seakan gajah karena pada akhirnya lalat pun bisa membedakan mana sampah, mana bunga,” ungkap Supriansa.

Pesan tersebut dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa persoalan kecil tidak perlu dibesar-besarkan untuk memperoleh perhatian. Pada akhirnya, masyarakat memiliki pertimbangan sendiri dalam membedakan tindakan yang memberikan manfaat dengan perilaku yang sekadar menimbulkan kegaduhan.

Dalam kehidupan politik, komunikasi yang proporsional dan sikap saling menghormati menjadi penting agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.

Menjaga Etika Demi Kemajuan Bersama

Di tengah transisi kepemimpinan ini, pesan Supriansa mengenai kelenturan politik dan pentingnya tidak menjatuhkan orang lain menjadi pengingat bahwa persaingan politik tidak harus menghilangkan penghargaan terhadap sesama.

Politik pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menduduki jabatan, melainkan juga bagaimana seseorang menjalani proses, membangun kepercayaan, dan menjaga hubungan kemanusiaan di tengah perbedaan.

Sebab, setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Tidak perlu merendahkan orang lain untuk meninggikan diri sendiri. Biarlah kerja nyata, integritas, dan waktu yang menunjukkan nilai dari setiap langkah politik.

Ksm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *